menghitung kapasitor seri paralel dan gabungan
22.21 |
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui nilai kapasitas sebuah kapasitor (capacitor/ condensator) di antaranya dengan melihat kode warna kapasitor, kode angka kapasitor, atau melalui pengukuran menggunakan alat ukur capacitance meter. Besarnya kapasitas dari kapasitor yang sudah dihubungkan dengan kapasitor lain dalam sebuah rangkaian akan tergantung dari jenis rangkaian yang dibangun.
Jika kapasitor dirangkai secara seri maka akan berlaku rumus 1/CTotal = 1/C1 + 1/C2 + 1/Cn, sedangkan jika kapasitor-kapasitor tersebut dirangkai secara paralel maka kapasitas totalnya akan merupakan penjumlahan dari kapasitor-kapasitor yang ada yakni CTotal = C1 + C1 + Cn. Rumus untuk menghitung kapasitor ini adalah kebalikan dari rumus untuk mencari totalresistansi komponen resistor. Untuk menghitung kapasitas dari deretan condensator pada rangkaian seri, rangkaian paralel, atau kombinasi keduanya dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah:
Rangkaian Kapasitor Seri
Contoh 1 (pada rangkaian seri)
Gambar di atas terdiri dari dua buah kapasitor (condensator) yang dirangkai seri. Jika C1 = 100 nF dan C2 = 10 nF maka untuk menghitung kapasitas totalnya adalah sebagai berikut:
Gambar di atas terdiri dari dua buah kapasitor (condensator) yang dirangkai seri. Jika C1 = 100 nF dan C2 = 10 nF maka untuk menghitung kapasitas totalnya adalah sebagai berikut:
1/CTotal = 1/C1 + 1/C2
1/CTotal = 1/100 + 1/10
1/CTotal = 1/100 + 10/100 (samakan penyebutnya)
1/CTotal = 11/100
CTotal = 100/11
CTotal = ±9.09 nF (nano Farad)
1/CTotal = 1/100 + 1/10
1/CTotal = 1/100 + 10/100 (samakan penyebutnya)
1/CTotal = 11/100
CTotal = 100/11
CTotal = ±9.09 nF (nano Farad)
Rangkaian Kapasitor Paralel
Contoh 2 pada rangkaian paralel
Gambar di atas adalah dua buah kapasitor yang dirangkai paralel. Jika C1 = 4700 μF dan C2 = 2200 μF maka untuk menghitung kapasitas totalnya adalah sebagai berikut:
Gambar di atas adalah dua buah kapasitor yang dirangkai paralel. Jika C1 = 4700 μF dan C2 = 2200 μF maka untuk menghitung kapasitas totalnya adalah sebagai berikut:
CTotal = C1 + C2
CTotal = 4700 + 2200
CTotal = 6900 μF (micro Farad)
CTotal = 4700 + 2200
CTotal = 6900 μF (micro Farad)
Rangkaian Kapasitor Seri Paralel
Contoh 3 (pada rangkaian seri-paralel)
Jika tiga buah kapasitor dirangkai secara seri-paralel seperti pada gambar di atas, maka untuk menghitung kapasitas totalnya harus menggunakan rumus seri dan rumus paralel seperti pada contoh 1 dan contoh 2. Jika C1 = 1000 μF, C2 = 500 μF, dan C3 = 500 μF, maka:
Jika tiga buah kapasitor dirangkai secara seri-paralel seperti pada gambar di atas, maka untuk menghitung kapasitas totalnya harus menggunakan rumus seri dan rumus paralel seperti pada contoh 1 dan contoh 2. Jika C1 = 1000 μF, C2 = 500 μF, dan C3 = 500 μF, maka:
Cp = C2 // C3 (gunakan rumus kapasitor paralel)
Cp = C2 + C3
Cp = 500 + 500
Cp = 1000 μF
Cp = C2 + C3
Cp = 500 + 500
Cp = 1000 μF
1/CTotal = 1/ C1 + 1/Cp (gunakan rumus kapasitor seri)
1/CTotal = 1/1000 + 1/1000
1/CTotal = 2/1000
CTotal = 1000/2
CTotal = 500 μF
1/CTotal = 1/1000 + 1/1000
1/CTotal = 2/1000
CTotal = 1000/2
CTotal = 500 μF
Rangkaian Kapasitor Seri Paralel
Contoh 4 (pada rangkaian seri paralel)
Pada gambar di atas jika C1 = 100 μF, C2 = 100 μF, dan C3 = 220 μF maka kapasitas totalnya adalah:
Pada gambar di atas jika C1 = 100 μF, C2 = 100 μF, dan C3 = 220 μF maka kapasitas totalnya adalah:
1/Cs = 1/C1 +1/ C2 (gunakan rumus kapasitor seri)
1/Cs = 1/100 +1/ 100
1/Cs = 2/100
Cs = 100/2
Cs = 50 μF
1/Cs = 1/100 +1/ 100
1/Cs = 2/100
Cs = 100/2
Cs = 50 μF
CTotal = Cs // C3 (gunakan rumus kapasitor paralel)
CTotal = Cs + C3
CTotal = 50 + 220
CTotal = 270 μF (micro Farad)
CTotal = Cs + C3
CTotal = 50 + 220
CTotal = 270 μF (micro Farad)
Catatan:
Satuan kapasitor harus disamakan terlebih dahulu sebelum menghitung kapasitor (kapasitas total) yakni 1 μF = 1000 nF, 1 nF = 10000 pF, dan seterusnya.
Satuan kapasitor harus disamakan terlebih dahulu sebelum menghitung kapasitor (kapasitas total) yakni 1 μF = 1000 nF, 1 nF = 10000 pF, dan seterusnya.
Cara Menghitung rangkaian seri Paralel Dan Gabungan Resistor
22.14 |
Salah satu cara untuk mengetahui resistansi sebuah resistor adalah dengan membaca kode warna resistor, tetapi jika lebih dari satu resistor yang saling berhubungan, maka terlebih dahulu harus diketahui jenis koneksi antar resistor tersebut karena cara menghitung resistor totalnya pun berbeda. Berdasarkan interkoneksinya, rangkaian resistor terbagi tiga jenis yaitu:
- Rangkaian Seri (Resistor dihubungkan secara seri/ berurutan)
- Rangkaian Paralel (Resistor dihubungkan secara paralel/ sejajar)
- Rangkaian Seri-Paralel (gabungan antara seri dan paralel)
RANGKAIAN RESISTOR SERI
Rangkaian Resistor Seri
Pada rangkaian seri, resistor dihubungkan secara berderet (seri) dan untuk menghitung resistansi total dari gambar di atas adalah dengan menjumlahkan semua resistor yang ada yakni R1, R2, dan Rn.
RTotal = R1 + R2 + … Rn
RTotal = Resistansi total
R1 = Resistor ke-1
R2 = Resistor ke-2
Rn = Resistor ke-n
R1 = Resistor ke-1
R2 = Resistor ke-2
Rn = Resistor ke-n
Contoh:
Jika terdapat R1 = 10 Ω, R1 = 20 Ω, dan R3 = 100 Ω kemudian dipasangsecara berderet (seri) maka resistansi totalnya adalah:
RTotal = R1 + R2 + R3
RTotal = 10 Ω + 20 Ω + 100Ω
RTotal = 130 Ω
Jika terdapat R1 = 10 Ω, R1 = 20 Ω, dan R3 = 100 Ω kemudian dipasangsecara berderet (seri) maka resistansi totalnya adalah:
RTotal = R1 + R2 + R3
RTotal = 10 Ω + 20 Ω + 100Ω
RTotal = 130 Ω
RANGKAIAN RESISTOR PARALEL
Rangkaian Resistor Paralel
Pada rangkaian paralel, semua resitor dihubungkan sejajar (paralel). Nilai resistansi total pada rangkaian paralel tidak akan melebihi resistansi dari resistor terkecil pada rangkaian tersebut.
1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 + … 1/Rn
Contoh:
Jika terdapat tiga buah resistor dengan masing-masing nilai R1 = 4 Ω, R2 = 3 Ω, R3 = 8 Ω kemudian dipasang paralel, maka resistansi totalnya adalah sebagai berikut:
Jika terdapat tiga buah resistor dengan masing-masing nilai R1 = 4 Ω, R2 = 3 Ω, R3 = 8 Ω kemudian dipasang paralel, maka resistansi totalnya adalah sebagai berikut:
1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 +1/R3
1/RTotal = 1/4 + 1/3 + 1/6
1/RTotal = 3/12 + 4/12 + 2/12
1/RTotal =9/12
RTotal =12/9 atau 4/3
RTotal =1.333 Ω
1/RTotal = 1/4 + 1/3 + 1/6
1/RTotal = 3/12 + 4/12 + 2/12
1/RTotal =9/12
RTotal =12/9 atau 4/3
RTotal =1.333 Ω
RANGKAIAN RESISTOR SERI-PARALEL
Rangkaian resistor seri-paralel adalah gabungan dari rangkaian seri dan rangkaian paralel. Oleh karena itu untuk menghitung resistor pada rangkaian seri-paralel harus dipahami dulu bagaimana resistor-resistor tersebut dihubung. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penghitungan mana yang akan didahulukan. Pada gambar di bawah yang didahulukan adalah menghitung bagian paralel yakni R1 dan Rn (R1//Rn) sedang pada gambar di bawahnya yang didahulukan adalah menghitung bagian seri yakni R1 dan R2 (R1+R2).
Rangkaian Resistor Seri Paralel
Contoh 1:
Jika R1 = 200 Ω, R2 = 50 Ω, dan Rn =50 Ω, maka cara menghitung resistor totalnya adalah sebagai berukut:
RTotal = R1 + (R2//Rn) baca: Resistansi total sama dengan R1 diserikan dengan R2 yang dipalalel dengan Rn. Artinya penghitungan paralel antara R2 dan Rn didahulukan.
Jika R1 = 200 Ω, R2 = 50 Ω, dan Rn =50 Ω, maka cara menghitung resistor totalnya adalah sebagai berukut:
RTotal = R1 + (R2//Rn) baca: Resistansi total sama dengan R1 diserikan dengan R2 yang dipalalel dengan Rn. Artinya penghitungan paralel antara R2 dan Rn didahulukan.
RP = R1//Rn (tanda “//” artinya paralel, jadi gunakan rumus perhitungan resistor paralel)
1/RP = 1/R1 + 1/Rn
1/RP = 1/50 + 1/50
1/RP = 2/50
RP = 50/2 = 25 Ω
1/RP = 1/R1 + 1/Rn
1/RP = 1/50 + 1/50
1/RP = 2/50
RP = 50/2 = 25 Ω
Setelah hasil sementara RP diketahui, selanjutnya jumlahkan (diserikan) dengan R1.
RTotal = R1 + (R2//Rn)
RTotal = R1 + RP
RTotal = 200 + 25
RTotal = 225 Ω
RTotal = R1 + (R2//Rn)
RTotal = R1 + RP
RTotal = 200 + 25
RTotal = 225 Ω
Rangkaian Resistor Seri Paralel
Contoh 2:
Untuk menghitung resistansi total dari rangkaian seri-paralel di atas, lakukan penghitungan pada rangkaian seri terlebih dahulu yaitu R1 dan R2, selanjutnya diparalelkan dengan Rn. Jika pada gambar di atas R1=50 Ω, R2 = 150 Ω, dan Rn =200 Ω, maka cara menghitung resistortotalnya adalah sebagi berikut:
Untuk menghitung resistansi total dari rangkaian seri-paralel di atas, lakukan penghitungan pada rangkaian seri terlebih dahulu yaitu R1 dan R2, selanjutnya diparalelkan dengan Rn. Jika pada gambar di atas R1=50 Ω, R2 = 150 Ω, dan Rn =200 Ω, maka cara menghitung resistortotalnya adalah sebagi berikut:
RTotal = (R1 + R2) // Rn) baca: R1 diserikan dengan R2 kemudian diparalel dengan Rn
RS = R1 + R2
RS = 50 + 150
RS = 200 Ω
RS = R1 + R2
RS = 50 + 150
RS = 200 Ω
Setelah hasil sementara Rs diketahui, selanjutnya paralelkan dengan Rn.
RTotal = (R1 + R2) // Rn
RTotal = RS // Rn
1/RTotal = 1/R1 + 1/Rn
1/RTotal = 1/200 + 1/200
1/RTotal = 2/200
RTotal = 200/2
1/RTotal = 100 Ω
RTotal = (R1 + R2) // Rn
RTotal = RS // Rn
1/RTotal = 1/R1 + 1/Rn
1/RTotal = 1/200 + 1/200
1/RTotal = 2/200
RTotal = 200/2
1/RTotal = 100 Ω
Catatan:
- Agar lebih simpel, pada perhitungan sengaja saya tidak mencantumkan satuan resistor Ohm (Ω), satuan hanya saya tulis dihasil akhir perhitungan saja.
- Untuk menghitung resistansi total, maka satuan setiap resistor yang terhubung harus sama.
- Tanda “+” adalah diseri dan tanda “//” adalah diparalel
21.58 |
Membedakan Transistor NPN dan PNP
Transistor adalah termasuk komponen utama dalam elektronika. Transistor terbuat dari 2 dioda germanium yang disatukan. Tegangan kerja transistor sama dengan dioda yaitu 0,6 volt.
Transistor memiliki 3 kaki yaitu :
Emitor (E)
Basis (B)
Colector (C)
Jenis transistor ada 2 yaitu :
1. Transistor PNP (anoda katoda anoda / kaki katoda yang disatukan)
2. Transistor NPN (katoda anoda katoda / kaki anoda yang disatukan)
Contoh transistor : C 828, FCS 9014, FCS 9013, TIP 32, TIP 31, C5149, C5129, C5804, BU2520DF, BU2507DX, dll
Menentukan Kaki Transistor
Menentukan Kaki Basis
Putar batas ukur pada Ohmmeter X10 atau X100.
Misalkan kaki transistor kita namakan A, B, dan C.
Bila probe merah / hitam => kaki A dan probe lainnya => 2 kaki lainnya secara bergantian jarum bergerak semua dan jika dibalik posisi hubungnya tidak bergerak semua maka itulah kaki BASIS.
Menentukan Kaki Colector NPN
Putar batas ukur pada Ohmmeter X1K atau X10K.
Bila probe merah => kaki B dan probe hitam => kaki C. Kemudian kaki A (basis) dan kaki B dipegang dengan tangan tapi antar kaki jangan sampai terhubung. Bila jarum bergerak sedikit berarti kaki B itulah kaki COLECTOR.
Jika kaki basis dan colector sudah diketahui berarti kaki satunya adalah emitor.
Mengukur Transistor Dengan Multitester
Batas ukur pada Ohmmeter X10 / X100Transistor PNPTransistor NPNTransistor NPN Dengan DumperTransistor NPN Dengan Dumper
21.31 |
Cara Menghitung Nilai Resistor Menggunakan Kode Warna
Assalamualaikum para Electrical Engineer, pada kesempatan ini saya akan berbagi tentang cara menghitung nilai resistor menggunakan kode warna. Sebenarnya ada tips dan trik agar mudah menghapal suatu nilai resistor, namun tentunya kita harus mengetahui nilai-nilai tersebut sesuai letak kode warna yang tertera pada resistor. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak artikel ini.
![]() |
| Resistor Chart |
Resistor merupakan komponen penghambat aliran arus listrik, resistor juga sering dikenal dengan nama hambatan.
Ada 2 macam resistor, yaitu :
1. Resistor dengan nilai tetap (Fixed Resistor).
1. Resistor dengan nilai tetap (Fixed Resistor).
2. Resistor yang dapat berubah-ubah nilainya atau tidak tetap (Variabel Resistor).
Resistor Tetap (Fixed Resistor) adalah nilai hambatannya tetap sesuai dengan nilai yang ditentukan oleh pabrik pembuatnya. Sedangkan Resistor tidak tetap (VariableResistor/VR) adalah resistor yang dapat berubah nilai hambatannya baik itu disengaja di rubah ataupun karena adanya pengaruh lingkungan.
1. Macam-macam Jenis Resistor Tetap (Fixed Resistor) :
Resistor Tetap (Fixed Resistor) adalah nilai hambatannya tetap sesuai dengan nilai yang ditentukan oleh pabrik pembuatnya. Sedangkan Resistor tidak tetap (VariableResistor/VR) adalah resistor yang dapat berubah nilai hambatannya baik itu disengaja di rubah ataupun karena adanya pengaruh lingkungan.
1. Macam-macam Jenis Resistor Tetap (Fixed Resistor) :
- Resistor Kawat
Resistor ini merupakan jenis resistor pertama yang lahir pada saat rangkaian elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Bentuknya bervariasi dan memiliki ukuran yang cukup besar. Resistor kawat ini biasanya banyak dipergunakan dalam rangkaian power karena memiliki resistansi yang tinggi dan tahan terhadap panas yang tinggi. Jenis resistor kawat yang masih banyak dipakai sampai sekarang adalah jenis resistor dengan lilitan kawat yang dililitkan pada bahan keramik, kemudian dilapisi dengan bahan semen. Daya yang tersedia untuk resistor jenis kawat ini adalah dalam ukuran 1 watt, 2 watt, 5 watt, dan 10 watt. Bentuk fisik bisa dilihat pada gambar :
| Resistor Kawat |
- Resistor Arang (Batang Karbon)
Resistor jenis ini dibuat dari bahan karbon kasar yang diberi lilitan kawat yang kemudian diberi tanda dengan kode warna berbentuk gelang. Resistor jenis ini merupakan jenis resistor generasi awal setelah adanya resistor kawat. Sekarang sudah jarang untuk dipakai pada rangkaian – rangkaian elektronika. Bentuk fisik dari resistor jenis ini dapat dilihat pada gambar :.
| Resistor Arang |
- Resistor Film Karbon
Jenis resistor ini dibuat dari bahan karbon dan dilapisi dengan bahan film yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Nilai resistansinya dicantumkan dalam bentuk kode warna. Resistor ini banyak digunakan dalam berbagai rangkaian elektronika karena bentuk fisiknya kecil dan mudah didapat di pasaran. Resistor ini memiliki daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt dengan toleransi 5% dan !0%. Bentuk fisik dari Resistor film karbon seperti terlihat pada gambar dibawah ini :
| Resistor film karbon |
- Resistor Metal Film
Bentuk fisik hampir menyerupai resistor film karbon. Resistor ini tahan terhadap perubahan temperatur.dan memiliki tingkat ketelitian nilai yang tinggi karena nilai toleransi yang tercantum pada resistor ini sangatlah kecil, biasanya sekitar 1% sampai 5%. Jika dibandingkan dengan resistor film karbon, resistor ini cenderung lebih baik karena memiliki toleransi yang lebih kecil. Resistor Metal Film memiliki 5 buah gelang warna, bahkan ada yang 6 buah gelang warna. Sedangkan, resistor film karbon hanya memiliki 4 buah gelang warna. Resistor ini sangat cocok digunakan dalam rangkaian – rangkaian yang memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, misalnya alat ukur.Daya yang dimiliki sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk Resistor Metal Film dapat dilihat pada gambar:
| Resistor Metal Film |
- Resistor Keramik atau Porselin
Perkembangan teknologi di bidang elektronika semakiin maju seperti tidak ada pangkalnya, saat ini telah dikembangkan jenis resistor yang terbuat dari bahan keramik atau porselin. Jenis resistor keramik ini sekarang sudah dilapisi dengan kaca tipis, banyak digunakan dalam rangkaian elektronika saat ini karena bentuk fisiknya relatif sangat kecil serta memiliki tingkat resistansi tetelitian yang tinggi. Daya yang dimiliki resistor ini sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Sedang nilai resistansinya tertulis pada tubuhnya. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar :.
| Resistor Keramik |
Ada 3 tipe pengkodean warna untuk resistor, yaitu:
- Resistor 4 gelang warna
- Resistor 5 gelang warna
- Resistor 6 gelang warna.
![]() |
| Tabel Kode Resistor |
Resistor 4 Warna
Warna (1) dan (2) = Angka DigitWarna (3) = Multiplier
Warna (4) = Nilai Toleransi
Resistor 5 Warna
Warna (4) = Multiplier
Warna (5) = Nilai Toleransi
Resistor 6 Warna
Warna (4) = Multiplier
Warna (5) = Nilai Toleransi
Warna (6) = Koefisien Suhu
- Cara Menghitung Resistor 4 Warna
untuk mengetahui cara menghitung resistor warna kita langsung pakai contoh saja resistor berikut:
Gelang 1 = Coklat ( 1 )
Gelang 2 = Hitam ( 0 )
Gelang 3 = Merah ( 102)
Gelang 4 = emas ( 5 % )
Nilai resistor tersebut adalah : 10 X 102= 1000 Ω = 1 KΩ ± 5 %
Gelang 2 = Hitam ( 0 )
Gelang 3 = Merah ( 102)
Gelang 4 = emas ( 5 % )
Nilai resistor tersebut adalah : 10 X 102= 1000 Ω = 1 KΩ ± 5 %
- Cara Menghitung Resistor 5 Warna
kita pakai contoh resistor dengan warna sebagai berikut
Gelang 1 = Merah ( 2 )
Gelang 2 = Kuning ( 4 )
Gelang 3 = Hitam (0)
Gelang 4 = Merah ( 102)
Gelang 5 = Hijau ( 0,5 % )
Nilai resistor tersebut adalah : 240 X 102= 24000 Ω = 24 KΩ ± 0,5 %
Gelang 2 = Kuning ( 4 )
Gelang 3 = Hitam (0)
Gelang 4 = Merah ( 102)
Gelang 5 = Hijau ( 0,5 % )
Nilai resistor tersebut adalah : 240 X 102= 24000 Ω = 24 KΩ ± 0,5 %
- Cara Menghitung Resistor 6 Warna
anda mempunyai resistor 6 warna misalnya sebagai berikut
Jadi Nilai resistornya
Gelang 1 = Merah ( 2 )
Gelang 2 = Kuning ( 4 )
Gelang 3 = Hitam (0)
Gelang 4 = Merah ( 102)
Gelang 5 = Hijau ( 0,5 % )
Gelang 6 = Orange (15ppm/derajat celcius)
Nilai resistor tersebut adalah : 240 X 102= 24000 Ω = 24 KΩ ± 0,5 % 15 ppm/derajat.
Gelang 2 = Kuning ( 4 )
Gelang 3 = Hitam (0)
Gelang 4 = Merah ( 102)
Gelang 5 = Hijau ( 0,5 % )
Gelang 6 = Orange (15ppm/derajat celcius)
Nilai resistor tersebut adalah : 240 X 102= 24000 Ω = 24 KΩ ± 0,5 % 15 ppm/derajat.
21.29 |
Kapasitor yang disingkat C adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan listrik yang melaluinya. Jika Kapasitor di pasang di listrik AC, maka mereka hanya akan melewatkannya saja, tapi jika dipasang di listrik DC maka mereka akan melawan atau memblokirnya. Yang perlu dan harus diperhatikan dari kapasitor adalah kapasitas dan tegangan kerjanya. Biasanya nilai tersebut tertera di badan kapasitor. Contohnya jika tertulis 10uF/16V, berarti nilai kapasitasnya adalah 10 mikro farad dengan tegangan kerja maksimal 16V. Namun perlu diingat, kapasitor jangan dipasang pada tegangan diatas tegangan kerjanya, karena bisa merusaknya. Jadi harus dipasang dibawah tegangan kerjanya. Misalnya aplikasi kita menggunakan tegangan 19V, maka kapasitor yang digunakan harus yang memiliki tegangan kerja diatasnya, biasanya menggunakan kapasitor dengan tegangan kerja maksimum 25V. Rumus untuk mengetahui nilai kapasitor adalah sebagai berikut:
Secara ringkas, sebetulnya kapasitor ada 2 macam yaitu kapasitor tetap dan variabel
Kapasitor Tetap: Ada dua macam kapasitor tetap, yang pertama kapasitor tetap yang memliki polaritas (pin positif dan pin negatif). contohnya adalah kapasitor elektrolit dan kapasitor tantalum. Simbol dari kapasitor berpolar adalah sebai berikut:
Kapasitor tetap berikutnya tidak memiliki polaritas, jadi pemasangannya boleh bolak balik. contohnya adalah Kapasitor keramik, kapasitor milar, kapasitor polyester, kapasitor silver mika, kapasitor polikarbonat, dan banyak lagi. Mereka biasanya memiliki kapaitas kecil dibanding yang brepolar.
Kapasitor Variabel: Ini adalah kapasitor khusus dimana nilainya bisa dirubah atau diatur. kapasitor variabel ada dua, yang pertama adalah TRIMCAP (Trimmer Capasitor. Untuk mengubah atau mengatur nilainya adalah dengan cara memutar bautnya menggunakan obeng, berikut gambar dan simbolnya:
Kerusakan kapasitor biasanya putus atau bocor. Untuk mengetahui apakah kapasitor masih bagus yaitu dengan menggunakan avometer pada skala ohm x10k atau x1k untuk kapasitor dengan kapasitas kecil. sedangkan untuk yang bernilai besar maka menggunakan skala ohm x1 atau x10. Caranya adalah menempelkan probe ke masing masing kaki kapasitor, maka jarum avometer akan bergerak kenan dan kembali lagi ke kiri, hal ini menandakan bahwa kapasitor masih bagus.
Sama halnya dengan Resistor, kapasitor juga memiliki toleransinilai. Biasanya ditulis menggunakan kode huruf seperti berikut: [F = 1%] [G = 2%] [J = 5%] [K = 10%] [M = 20%]
Reaktansi kapasitif "Xc" adalah sifat tahanan yang timbul pada kapasitor saat dialiri listrik AC. Jika frekwensi naik maka reaktansi kapasitif akan turun, dan sebaliknya jika frekwensi turun maka reaktansi akan naik. Berikut ini rumus perhitungan reaktansi kapasitif
Berikut ini gambaran ketika kapasitor digunakan pada listrik AC. Dalam rangkaian ini akan timbul reaktansi kapasitif dan lampu akan menyala terus selama masih terhubung pada tegangan sumber. Hal itu disebabkan oleh sifat dasar kapasitor yang hanya melewatkan arus listrik AC.
Yang berikut ini adalah ketika kapasitor digunakan pada arus listrik DC. Karena sifat kapasitor di arus listrik DC adalah Memblokirnya maka lampu tidak dapat menyala. Sebetulnya tidak sama sekali mati, Lampu akan menyala sebentar saja ketika pengisian lalu mati. coba saja praktekkan.
Langganan:
Postingan (Atom)

















